ANALISIS
KEBUDAYAAN DI TEGAL
Disusun
untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Ilmu Budaya
Dosen
Pengampu:
1)
Suseno
2)
Meina Febriani
Oleh:
Febri Wulandari
2101413008
PBSI/
ROMBEL 1
JURUSAN BAHASA
DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS
NEGERI SEMARANG
2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita
panjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan berkah, rahmat serta
hidayah-Nyalah sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan waktu
yang tepat. Makalah ini berisi tentang “Analisis Kebudayaan di Tegal”.
Diharapkan
makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang Perubahan
Kebudayaan, Persebaran Kebudayaa dan unsur-unsur Kebudayaan dengan cara
menganalisis tradisi atau kebudayaan yang ada di Tegal seperti Kebudayaan Rebo Wekasan dan tradisi Moci.
Saya
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.
Saya
ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam
penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa
meridhai segala usaha kita. Amin.
Semarang,
Januari 2014
Penyusun
DAFTAR
ISI
Halaman
Judul.....................................................................................................................
i
Kata
Pengantar...................................................................................................................
ii
Daftar
Isi............................................................................................................................
iii
BAB
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah......................................................................................
1
1.2. Rumusan Masalah.................................................................................................. 1
1.3. Tujuan...................................................................................................................... 2
BAB
II. PEMBAHASAN
2.1 Kebudayaan Rebo Wekasan dan Analisis Berdasarkan Perubahan Kebudayaan......... 3
2.2 Kebudayaan Moci Orang Tegal dan Analisis Berdasarkan Persebaran Kebudayaan...........................................................................................9
2.3 Analisis Berdasarkan 7
unsur Kebudayaan.......................................... 13
BAB
III. PENUTUP
3.1. Simpulan................................................................................................................ 18
3.2. Saran....................................................................................................................... 18
BAB
IV. DAFTAR PUSTAKA
4.1. Daftar Pustaka........................................................................................................ 19
LAMPIRAN..............................................................................................................20
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kebudayaan
adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem
ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan
sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Indonesia
merupakan salah satu negara yang mempunyai kebudayaan yang sangat beraneka
ragam baik jumlahnya maupun keanekaragamannya. Karena keanekaragaman
tersebutlah indonesia menjadi daya tarik bangsa lain dari belahan dunia
untuk mengetahuinya bahkan tidak sedikit mereka juga mempelajarinya
karenaselain beraneka ragam budaya Indonesia dikenal sangat unik.Budaya juga
merupakan identitas bangsa yang harus dihormati dan dijaga serta perlu
dilestarikan agar kebudayaan kita tidak hilang dan bisa menjadi warisan
anak cucu kita kelak.
Tegal terletak di 165 km sebelah barat Kota Semarang,
atau 329 km sebelah timur Jakarta dengan luas wilayah 39, 467 km2. Tegal
memiliki lokasi yang strategis, karena berada di jalur pantai utara (pantura)
Jawa Tengah, serta terdapat persimpangan jalur utama yang menghubungkan pantura
dengan kota-kota di bagian selatan Pulau Jawa. Selain dekat dengan pesisir,
wilayah Kota Tegal yang tidak terlalu luas juga membuat Tegal dekat dengan
daerah dataran tingginya. Dengan kata lain, Tegal diapit oleh laut dan gunung.
Keragaman keadaan geografis tersebut sangat berpengaruh pada kebudayaan
masyarakatnya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana kebudayaan Rebo Wekasan dan
analisisnya berdasarkan perubahan kebudayaan?
2. Bagaimana kebudayaan Moci orang Tegal dan analisisnya
berdasarkan persebaran kebudayaan?
3. Bagaimana analisis berdasarkan 7 unsur
Kebudayaan?
1.3 Tujuan
Penulisan
1. Mengetahui kebudayaan Rebo Wekasan dan
analisisnya berdasarkan perubahan kebudayaan.
2. Mengetahui kebudayaan Moci orang Tegal dan analisisnya
berdasarkan persebaran kebudayaan.
3. Mengetahui analisis berdasarkan 7 unsur
Kebudayaan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kebudayaan Rebo Wekasan dan Analisis
Berdasarkan Perubahan Kebudayaan
2.1.1 Kebudayaan Rebo Wekasan
Tegal,
tak hanya dikenal karena dialek bahasa Jawa (ngapak), pantai dan kulinernya,
tetapi kota dengan julukan Tegal Laka-Laka ini juga dikenal karena budayanya
yang unik. Salah satunya yaitu tradisi budaya yang berkaitan dengan penyebaran agama
Islam di Tegal. Masyarakat Tegal menyebut tradisi itu dengan “Rebo Wekasan”.
Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan adalah
hari Rabu di minggu terakhir di bulan Safar. Masyarakat Tegal pada zaman dahulu
percaya bahwa bencana dan mala petaka banyak terjadi pada hari itu. Sehingga
masyarakat perlu melakukan upaya pencegahan agar bencana dan mala petaka ini
tidak terjadi. Maka pada hari itu, masyarakat zaman dahulu banyak yang
melaksanakan shalat Rebo Wekasan, mandi di sungai, mengunjungi sanak saudara,
bahkan membuat serangkaian acara selama seharian yang kemudian ditutup dengan
pertunjukkan wayang, dan lain sebagainya. Ada juga masyarakat dahulu yang
memperingati Rebo Wekasan dengan cara melakukan ritual-ritual berbau mistik
tertentu yang mereka percayai mampu menghindarkan dari melapetaka.
Setiap daerah di Tegal memiliki cara dan
keunikan masing-masing dalam pada saat Rebo Wekasan ini. Acara ini menjadi
sebuah tradisi yang masih dilaksanakan sampai sekarang ini. Masyarakat Tegal
banyak yang mempercayai kalau pada hari Rabu terakhir pada bulan Safar ini,
akan banyak bencana dan mala petaka. Sehingga banyak dari mereka, baik
itu anak-anak sampai orang dewasa melakukan berbagai upaya untuk terhindar dari
bencana dan mala petaka tersebut.
Tradisi
yang sampai saat ini masih dilaksanakan oleh masyarakat Tegal dalam menghadapi
Rebo Wekasan, yaitu tradisi mencukur beberapa helai rambut dan tradisi membuat
bubur merah dan putih, yang kemudian dibagikan ke tetangga mereka. Sekarang, tak semua masyarakat membuat
bubur merah putih. Banyak masyarakat yang telah mengganti bubur merah putih
dengan makanan lain seperti nasi kuning atau putih dengan lauknya. Tak ada
bukti tertulis mengenai sejarah tradisi ini. Akan tetapi, tradisi ini seakan
sudah menjalar dalam masyarakat dan seakan jika tidak dilaksanakan, bencana dan
mala petaka akan datang menimpa mereka.
Selain tradisi mencukur rambut dan juga
membuat bubur, ada juga tradisi unik lain yang dilaksanakan di Tegal selama
Rebo Wekasan. Tradisi itu dilaksanakan di dua kecamatan di Tegal, yaitu di
Suradadi dan Lebaksiu. Meskipun pada dasarnya sama, yaitu untuk memperingati
Rebo Wekasan, tetapi kegiatan yang dilaksanakan agak berbeda.
Namun, dalam memperingati Rebo Wekasan di
beberapa daerah tidak seramai di Suradadi dan Lebaksiu. Dibeberapa desa,
peringatan Rebo Wekasan hanya dengan melaksanakan doa bersama dan mencukur
rambut serta membuat nasi kuning dan lauknya yang kemudian dibagikan kepada
saudara dan para tetangga. Pada masa sekarang, masyarakat yang masih
memperingati Rebo Wekasan hanyalah masyarakat pedesaan saja yang masih
mempercayai tradisi ini.
Di Desa Suradadi, kecamatan Suradadi,
tradisi dalam memperingati Rebo Wekasan dilaksanakan cukup unik. Masyarakat
Suradadi pada khususnya, melaksanakan Khaul pada saat Rebo Wekasan. Khaul
diadakan sebagai suatu kegiatan untuk mengenang kembali para ulama yang telah
berjasa dalam menyebarkan agam Islam di daerah tersebut.
Banyak
pula yang mengatakan terutama di kalangan ulama, budaya Rebo Wekasan di desa
Suradadi yang dilaksanakan dalam bentuk Khaul adalah sebuah upaya dari para
ulama setempat untuk menjadikan Rebo Wekasan lebih bermakna dan memiliki nilai
yang lebih bermanfaat bagi masyarakat. Dalam pelaksanaan Rebo Wekasan, kegiatan
yang dilakukan oleh masyarakat banyak yang menyimpang dari agama berkenaan
keercayaan masyarakat itu sendiri. Sehingga para ulama berusaha untuk mengubah itu, yaitu
dengan diadakannya Khaul.
Khaul di desa Suradadi dalam rangka Rebo
Wekasan, telah dilaksanakan sejak tahun 1961, tepatnya pada tanggal 13 Agustus
(27 Safar 1381 H). Biasanya dilaksanakan di pemakaman umum desa, tepatnya di
sebelah selatan Masjid Jami Al-Kautsar atau sebelah selatan Pasar Suradadi.
Pada saat Haul, masyarakat Suradadi dan sekitarnya akan berkumpul di pemakaman
tersebut dan membacakan doa-doa untuk para ulama yang telah meninggal dunia dan
telah berjasa dalam penyebaran agama Islam. Setiap tahun, acara Khaul tersebut
selalu dipenuhi para pengunjung yang jumlahnya bisa mencapai ribuan pengunjung. Masyarakat yang mengikuti acara tersebut tidak hanya
masyakarat Suradadi, tetapi juga oleh masyarakat kabupaten dan kota Tegal yang
lain, bahkan banyak pula pengunjung yang berasal dari luar Tegal.
Selain Khaul, hal yang unik dalam
peringatan Rebo Wekasan di Suradadi adalah adanya pasar dadakan yang ada
sebelum, selama dan setelah Rebo Wekasan. Biasanya pasar ini ada setengah atau
satu bulan sebelum hari H Rebo Wekasan. Karena adanya pasar ini juga, keadaan
di desa Suradadi menjadi sangat ramai yang disebabkan oleh banyaknya para
pedagang serta para pengunjung yang mendatangi pasar dadakan tersebut.
Barang yang dijual dalam pasar tersebut
berupa segala jenis makanan, mainan anak-anak, pakaian, sepatu, tas, serta
kebutuhan-kebutuhan yang lain. Sehingga pasar ini seperti tidak ada bedanya
dari pasar malam yang mengundang keramaian. Pedagang pun datang dari
berbagai kota. Karena terdapat sebuah kepercayaan bahwa setelah berdagang pada
acara Rebo Wekasan, dagangan mereka akan bertambah laris pada hari berikutnya.
Ini menjadi sebuah tradisi budaya yang selalu ditunggu oleh masyarakat Suradadi
yang dapat dilihat dengan selalu diadakannya tradisi ini setiap tahunnya.
Ada beberapa perbedaan dari pelaksanaan
tradisi Rebo Wekasan yang dilakukan oleh masyarakat Lebaksiu dan Suradadi.
Lebaksiu adalah salah satu kecamatan yang ada di kabupaten Tegal, yang terletak
di jalur Tegal-Guci. Konon, berdasarkan cerita yang telah menyebar di
masyarakat Lebaksiu bahwa peringatan Rebo Wekasan ini adalah untuk mengenang
jejak Mbah Panggung, tokoh yang berjasa dalam penyebaran agama Islam di wilayah
tersebut. Akan tetapi, tidak ada sumber yang menyebutkan dengan jelas tentang
sejarah dari peringatan Rebo Wekasan di Lebaksiu. Sehingga cerita Mbah
Panggun-lah yang dianggap paling benar.
Makam Mbah Panggung berada di puncak Bukit
Sitanjung, dimana bukit ini terletak diantara dataran-dataran tinggi yang ada
di Lebaksiu. Oleh karena itu, pusat acara Rebo Wekasan di Lebaksiu berada
disekitar bukit tersebut, bahkan mencapai pinggir-pinggir jalan raya.
Jika
di Suradadi Rebo Wekasan ini lebih dominan dengan acara agama dalam hal ini
yaitu Khaul, Rebo Wekasan di Lebaksiu lebih didominasi dengan kegiatan
jual-beli para pedagang yang hanya ada selama Rebo Wekasan. Biasanya para pedagang ini sudah membuka
lapaknya setengah bulan sebelum hari H, sampai seminggu setelah hari H. Lapak
yang ada pun bisa mencapai kiloan meter dari Bukit Sitanjung. Mulai dari
makanan, baju, sepatu, tas, mainan anak-anak, aksesoris, lengkap ada di situ.
Tidak hanya pedagangnya yang jumlahnya tak
terhitung, pengunjung yang datang pun jumlahnya membludak. Ribuan orang datang
hanya sekedar untuk berkeliling untuk melihat-lihat dagangan, atau jalan-jalan
menaiki bukit untuk menikmati pemandangan Bukit Sitanjung. Selain itu, banyak
masyarakat dari dalam maupun luar daerah yang datang untuk berdoa dan berziarah
ke makam Mbah Tanjung.
Di masyarakat Lebaksiu, ada sebuah mitos
tentang Rebo Wekasan. Setiap tahun, tepatnya ketika Rebo Wekasan, pasti akan
ada pengunjung yang meninggal, karena dijadikan tumbal. Terlepas benar apa
tidak, tetapi memang ketika Rebo Wekasan, ada saja pengunjung yang meninggal.
Ada yang hanyut di sungai, ada yang terjatuh, ada yang hilang, dan lain-lain.
Meskipun begitu, Rebo Wekasan tetap menjadi
sebuah acara yang ditunggu oleh masyarakat Lebaksiu. Daya tarik utama dari
peringatan Rebo Wekasan ini adalah para pedagang yang datang dari berbagai kota
yang membuka lapaknya di sekitar Bukit Sitanjung.
2.1.2 Analisis Berdasarkan Perubahan Kebudayaan
Perubahan
kebudayaan tidak selalu menunjukan adanya kemajuan, namun dapat sebaliknya.
Secara umum, perubahan kebudayaan dapat terjadi secara defusi, akulturasi, dan
asimilasi.
a. Defusi
Defusi adalah masuknya
sebuah unsur suatu kebudayaan ke kebudayaan. Contoh perubahan kebudayaan yang
terjadi secara defusi yaitu adanya kebudayaan dari suatu masyarakat yang
berbeda, bahkan mungkin saling berjauhan, namun menunjkan adanya unsur-unsur
yang sama.
Defusi yang tarjadi pada
pelaksanaan peringatan Rebo Wekasan yang dilakukan oleh masyakat di Tegal,
dapat dilihat dari peringatan yang dilakukan oleh masyarakat desa Suradadi dan
Lebaksiu yaitu adanya unsur ekonomi yang ada dalam pelaksanaan Rebo Wekasan.
Khaul
di desa Suradadi dalam rangka Rebo Wekasan, yang telah dilaksanakan sejak tahun
1961, tepatnya pada tanggal 13 Agustus (27 Safar 1381 H) dan biasanya
dilaksanakan di pemakaman umum desa, tepatnya di sebelah selatan Masjid Jami
Al-Kautsar atau sebelah selatan Pasar Suradadi. Pada saat Haul, masyarakat Suradadi dan
sekitarnya akan berkumpul di pemakaman tersebut dan membacakan doa-doa untuk
para ulama yang telah meninggal dunia dan telah berjasa dalam penyebaran agama
Islam.
Setiap tahun, acara Khaul tersebut selalu
dipenuhi para pengunjung yang jumlahnya bisa mencapai ribuan pengunjung. Masyarakat yang mengikuti acara tersebut tidak hanya
masyakarat Suradadi, tetapi juga oleh masyarakat kabupaten dan kota Tegal yang lain,
bahkan banyak pula pengunjung yang berasal dari luar Tegal.
Selain Khaul, hal yang lain dalam
peringatan Rebo Wekasan di Suradadi adalah adanya pasar dadakan yang ada
sebelum, selama dan setelah Rebo Wekasan. Biasanya pasar ini ada setengah atau
satu bulan sebelum hari H Rebo Wekasan. Karena adanya pasar ini juga, keadaan
di desa Suradadi menjadi sangat ramai yang disebabkan oleh banyaknya para
pedagang serta para pengunjung yang mendatangi pasar dadakan tersebut. Barang
yang dijual dalam pasar tersebut berupa segala jenis makanan, mainan anak-anak,
pakaian, sepatu, tas, serta kebutuhan-kebutuhan yang lain. Sehingga pasar ini
seperti tidak ada bedanya dari pasar malam yang mengundang keramaian.
Ada beberapa perbedaan dari pelaksanaan
tradisi Rebo Wekasan yang dilakukan oleh masyarakat Lebaksiu dan Suradadi.
Lebaksiu adalah salah satu kecamatan yang ada di kabupaten Tegal, yang terletak
di jalur Tegal-Guci. Konon, berdasarkan cerita yang telah menyebar di
masyarakat Lebaksiu bahwa peringatan Rebo Wekasan ini adalah untuk mengenang
jejak Mbah Panggung, tokoh yang berjasa dalam penyebaran agama Islam di wilayah
tersebut. Akan tetapi, tidak ada sumber yang menyebutkan dengan jelas tentang
sejarah dari peringatan Rebo Wekasan di Lebaksiu. Sehingga cerita Mbah
Panggun-lah yang dianggap paling benar.
Makam Mbah Panggung berada di puncak Bukit
Sitanjung, dimana bukit ini terletak diantara dataran-dataran tinggi yang ada
di Lebaksiu. Oleh karena itu, pusat acara Rebo Wekasan di Lebaksiu berada
disekitar bukit tersebut, bahkan mencapai pinggir-pinggir jalan raya.
Jika
di Suradadi Rebo Wekasan ini lebih dominan dengan acara agama dalam hal ini
yaitu Khaul, Rebo Wekasan di Lebaksiu lebih didominasi dengan kegiatan
jual-beli para pedagang yang hanya ada selama Rebo Wekasan. Biasanya para pedagang ini sudah membuka
lapaknya setengah bulan sebelum hari H, sampai seminggu setelah hari H. Lapak
yang ada pun bisa mencapai kiloan meter dari Bukit Sitanjung. Mulai dari
makanan, baju, sepatu, tas, mainan anak-anak, aksesoris, lengkap ada di situ.
Tidak hanya pedagangnya yang jumlahnya tak
terhitung, pengunjung yang datang pun jumlahnya membludak. Ribuan orang datang
hanya sekedar untuk berkeliling untuk melihat-lihat dagangan, atau jalan-jalan
menaiki bukit untuk menikmati pemandangan Bukit Sitanjung. Selain itu, banyak
masyarakat dari dalam maupun luar daerah yang datang untuk berdoa dan berziarah
ke makam Mbah Tanjung.
Terlihat
unsur ekonomi yang sama dalam pelaksanaan Rebo Wekasan antara di desa Suradadi
dan Lebaksiu yaitu dengan adanya pasar dadakan yang menjual berbagai macam
kebutuhan masyarakat. Dengan adanya pasar dadakan ini, masyarakat dapat
menghasilkan penghasilan tambahan untuk kehidupannya. Selain itu, tempat
pelaksanaan peringatan Rebo Wekasan di desa Suradadi dan Lebaksiu yaitu
sama-sama di sekitar makam para leluhur atau orang-orang yang telah berjasa.
b. Akulturasi
Akulturasi adalah proses adaptasi terhadap
kondisi kehidupan baru. Akulturasi lebih dipahami sebagai proses, bukan suatu
keadaan. Oleh karena itu, pemahaman terhadap akulturasi kebudayaan selalu
berubah dari waktu ke waktu karena individu-individu sebagai pendukung
kebudayaan selalu berganti dan sentuhan dengan kebudayaan lain dari waktu ke
waktu selalu terjadi.
Secara akulturasi, perubahan kebudayaan
yang terjadi terlihat pada peringatan Rebo Wekasan di daerah selain desa
Suradadi dan Lebaksiu. Tidak semua masyarakat yang memperingati Rebo Wekasan
melakukan kegiatan yang dilakukan masyrakat dahulu. Hanya ada beberapa
masyarakat yang mencukur rambutnya karena kepercayaan terhadap mala petaka
mulai berkurang seiring dengan tumbuhnya kepercayaan masyarakat akan agama yang
dianut yaitu Islam.
Masyarakat di beberapa desa di Tegal,
melakukan doa bersama untuk keselamatan dalam kehidupan masyarakat itu sendiri,
namun acara doa bersama tersebut dilakukan sebagai peringatan Rebo Wekasan.
Jika pada zaman dahulu makanan yang digunakan dalam peringatan Rebo Wekasan
hanya menggunakan bubur merah dan putih, sekarang masyarakat menggantinya
dengan nasi kuning dan lauknya karena tidak semua anak-anak sekarang yang
menyukai bubur merah dan putih serta dinilai kurang mengenyangkan, namun tetap
ada makanan bubur merah dan putih yang digunakan sebagai sarat agar tradisi
terdahulu tidak hilang. Kemudian makanan
tersebut dibawa dalam acara doa bersama, dan masyarakat percaya setelah makanan
tersebut didoai, maka makanan tersebut akan membawa berkah dan akan terhindar
dari mala petaka bagi siapapun yang memakannya.
c. Asimilasi
Asimilasi
adalah proses penyesuaian golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan
tertentu ke dalam golongan lain dengan kebudayaan yang berbeda sedemikian rupa
sehingga sifat khas dan identitas kebudayaan golongan pertama lambat laun
berkurang dan menghilang. Dalam praktiknya, seringkali asimilasi dikacaukan
dengan akulturasi. Kedua Perubahan kebudayaan yang terjadisecara asimilasi
terlihat pada peringatan Rebo Wekasan Di Desa Suradadi.
Masyarakat Suradadi pada khususnya,
melaksanakan Khaul pada saat Rebo Wekasan. Khaul diadakan sebagai suatu
kegiatan untuk mengenang kembali para ulama yang telah berjasa dalam
menyebarkan agam Islam di daerah tersebut. Banyak pula yang mengatakan terutama
di kalangan ulama, budaya Rebo Wekasan di desa Suradadi yang dilaksanakan dalam
bentuk Khaul adalah sebuah upaya dari para ulama setempat untuk menjadikan Rebo
Wekasan lebih bermakna dan memiliki nilai yang lebih bermanfaat bagi
masyarakat.
Dalam
pelaksanaan Rebo Wekasan, kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat banyak yang
menyimpang dari agama berkenaan kepercayaan masyarakat itu sendiri. Peringatan Rebo Wekasan dilakukan dengan
cara ritual-ritual berbau mistik tertentu yang masyarakat dahulu percayai mampu
menghindarkan dari melapetaka seperti mandi di sungai dengan perlengkapan yang
telah ditentukan oleh para sesepuh. Sehingga para ulama berusaha untuk mengubah
itu, yaitu dengan diadakannya Khaul.
Khaul di desa Suradadi dalam rangka Rebo
Wekasan, telah dilaksanakan sejak tahun 1961, tepatnya pada tanggal 13 Agustus (27
Safar 1381 H). Biasanya dilaksanakan di pemakaman umum desa, tepatnya di
sebelah selatan Masjid Jami Al-Kautsar atau sebelah selatan Pasar Suradadi.
Pada saat Haul, masyarakat Suradadi dan sekitarnya akan berkumpul di pemakaman
tersebut dan membacakan doa-doa untuk para ulama yang telah meninggal dunia dan
telah berjasa dalam penyebaran agama Islam. Setiap tahun, acara Khaul tersebut
selalu dipenuhi para pengunjung yang jumlahnya bisa mencapai ribuan pengunjung. Masyarakat yang mengikuti acara tersebut tidak hanya
masyakarat Suradadi, tetapi juga oleh masyarakat kabupaten dan kota Tegal yang
lain, bahkan banyak pula pengunjung yang berasal dari luar Tegal.
2.2 Kebudayaan Moci Orang Tegal dan Analisis
Berdasarkan Persebaran Kebudayaan
2.2.1 Kebudayaan Moci Orang Tegal
Bagi masyarakat Tegal, teh menjadi bagian
hidup sehari-hari. Tradisi ini berakar sejak ratusan tahun lalu. Begitu
melekatnya teh dalam kehidupan masyarakat Tegal sampai ada istilah ”moci bae,
kayak wong tuwa” dalam bahasa percakapan sehari-hari orang Tegal. Istilah dalam
konteks olok-olok ini biasa dilontarkan anak muda kepada teman seusianya yang
gemar minum teh seduhan dalam poci. Namun, bisa juga untuk menyindir seseorang
yang gemar mengobrol tanpa henti.
Moci adalah kebiasaan orang Tegal yang suka
minum teh seduh dalam poci gerabah. Sebelum diminum, teh panas yang warnanya
pekat itu dituang lebih dulu ke dalam cangkir-cangkir kecil berisi gula batu.
Kombinasi teh pekat dengan manisnya gula batu ini yang membuat teh Tegal
populer dengan nama ”nasgitel”, kependekan dari panas, legi (manis), dan
kenthel (pekat) atau ”wasgitel”, yang artinya wangi, panas, legi, kenthel.
Kebiasaan moci orang Tegal bisa dilihat di
warung-warung makan, tempat lesehan pinggir jalan yang buka dari sore sampai tengah
malam, hingga rumah makan yang cukup besar di seluruh Kota Tegal. Biasanya
orang baru moci bila ada teman untuk diajak minum teh. Pada saat moci itulah
obrolan bisa mengalir hingga menjelang dini hari. Selain nikmat, harga satu set
teh poci dan dengan dua cangkir cukup murah.
Selain itu, kebiasaan
moci juga dilakukan oleh orang-orang di rumah saat pagi hari maupun malam hari
saat sedang berkumpul dengan keluarga dan kerabat. Tidak hanya para bapak-bapak saja yang
gemar moci, ibu-ibu bahkan anak-anak sering ikut moci saat keluarga sedang
berkumpul. Kebiasaan moci yang dilakukan oleh berbagai kalangan ini tidak hanya
sekadar untuk menikmati saja, namun juga untuk melestarikan budaya asli Tegal
yang ada sejak dulu yang sekarang masih dilakukan.
Orang Tegal yang laki-laki dan sebagian
permpuan gemar moci. Artinya suka minum teh yang dibuat di dalam poci khas
Tegal, tetapi karena poci khas Tegal agak susah dalam perwatannya maka sekarang
ini yang penting pakai poci apa saja. Yang laki-laki biasanya moci di
warung-warung makan atau warteg sedangkan yang permepuan biasanya moci di
rumah. Jika moci di warung biasanya mereka punya cara duduk unik juga yaitu
kaki kanan ditekuk dan telapak kakinya diletakkan di sebelah pinggul sehingga
lututnya dapat menyangga lengan tangan kanan. Itulah cara moci yang sangat
nikmat. Hanya saja bagi orang yang bukan dari Tegal dianggap sikap duduk yang
kurang sopan tapi jika orang Tegal sedang moci itulah duduk khas. Ketika sedang
moci, mereka menyukai teh kental istilah tegalnya Buket.
Tegal, kota yang posisi geografisnya di
dataran rendah, sebenarnya tidak memiliki perkebunan teh. Namun, tradisi minum
teh di daerah ini sangat kental dibandingkan dengan di kota lain yang juga
berada di pesisir utara Jawa Tengah. Jauh sebelum tanaman teh datang ke
Indonesia sekitar abad ke-17, Tegal sudah memiliki budaya minum teh yang
berakar dari China.
Pada masa lalu, daerah pantai utara Jawa
Tengah, termasuk Tegal, merupakan jalur perdagangan yang ramai karena Tegal
memiliki pelabuhan besar. Sebelum ada tanaman teh di Indonesia, teh yang
dikonsumsi di Tegal didatangkan langsung dari China.
Belanda yang membawa masuk tanaman teh ke
Indonesia kemudian menetapkan sistem tanam paksa dan salah satu komoditasnya
adalah teh. Produk teh yang berkualitas sebagian besar diekspor ke Belanda dan
Eropa, sementara teh sisa yang mutunya rendah diambil oleh para pekerja
pribumi.
Kondisi itu membentuk selera konsumsi orang
Tegal terhadap teh. Sampai sekarang masyarakat Tegal terbiasa minum teh yang
sepet dan pekat. Rasa sepet itu, berasal dari batang teh yang ikut digiling
bersama daun teh sehingga menghasilkan teh berkualitas rendah. Dalam
perkembangannya, teh di Tegal kemudian diolah dengan aroma bunga melati agar
lebih enak dinikmati.
Selera terhadap cita rasa teh yang agak
sepet itu justru membuka peluang bagi pengusaha untuk membuka pabrik teh di
Tegal. Sekarang ini di Tegal ada empat pabrik teh besar yang menguasai pasar
dalam negeri, yaitu teh 2 Tang, Teh Poci, Teh Tong Tji, dan Teh Gopek. Keempat
pabrik teh itu berdiri hampir bersamaan, yaitu sekitar tahun 1940-an.
Citra Tegal sebagai kota teh dimanfaatkan
oleh keempat pabrik teh tersebut untuk berebut memasang logo pabrik mereka di
setiap rumah makan. Sepanjang pengamatan, tidak ada warung makan yang tidak
memasang logo teh 2 Tang, Teh Poci, Teh Tong Tji, atau Teh Gopek di warungnya.
Bagi orang Tegal, teh bukan sekadar bahan
baku untuk membuat minuman, melainkan juga memiliki fungsi lain, salah satunya
adalah sebagai cendera mata. Ketika seseorang menggelar hajatan, bubuk teh
dalam kemasan kecil, yaitu sebesar kotak korek api, dibagikan kepada tamu
sebagai kenang-kenangan.
2.2.2 Analisis Berdasarkan Persebaran Kebudayaan
a. Internalisasi
Internalisasi
adalah suatu proses mempelajari
kebudayaan dengan respon yang sama dari
lahir sampai mati. Menurut persebaran
kebudayaan, internalisasi dapat dilihat dari kebiasaan moci di Tegal.
Kebiasaan moci juga dilakukan oleh
orang-orang di rumah saat pagi hari maupun malam hari saat sedang berkumpul
dengan keluarga dan kerabat. Tidak hanya para bapak-bapak saja yang gemar moci,
ibu-ibu bahkan anak-anak sering ikut moci saat keluarga sedang berkumpul.
Kebiasaan moci yang dilakukan oleh berbagai kalangan ini tidak hanya sekadar
untuk menikmati saja, namun juga untuk melestarikan budaya asli Tegal yang ada
sejak dulu yang sekarang masih dilakukan.
b. Sosialisasi
Sosialisasi
dalah proses persebaran kebudayaan
karena kebersinggungan dengan orang lain dengan cara komunikasi. Menurut
persebaran kebudayaan, sosialisasi dapat dilihat dari sejarah moci orang Tegal.
Tegal, kota yang posisi geografisnya di
dataran rendah, sebenarnya tidak memiliki perkebunan teh. Namun, tradisi minum
teh di daerah ini sangat kental dibandingkan dengan di kota lain yang juga
berada di pesisir utara Jawa Tengah. Jauh sebelum tanaman teh datang ke
Indonesia sekitar abad ke-17, Tegal sudah memiliki budaya minum teh yang
berakar dari China.
Pada masa lalu, daerah pantai utara Jawa
Tengah, termasuk Tegal, merupakan jalur perdagangan yang ramai karena Tegal
memiliki pelabuhan besar. Sebelum ada tanaman teh di Indonesia, teh yang
dikonsumsi di Tegal didatangkan langsung dari China.
Belanda yang membawa masuk tanaman teh ke
Indonesia kemudian menetapkan sistem tanam paksa dan salah satu komoditasnya adalah
teh. Produk teh yang berkualitas sebagian besar diekspor ke Belanda dan Eropa,
sementara teh sisa yang mutunya rendah diambil oleh para pekerja pribumi.
Kondisi itu membentuk selera konsumsi orang
Tegal terhadap teh. Sampai sekarang masyarakat Tegal terbiasa minum teh yang
sepet dan pekat. Rasa sepet itu, berasal dari batang teh yang ikut digiling
bersama daun teh sehingga menghasilkan teh berkualitas rendah. Dalam
perkembangannya, teh di Tegal kemudian diolah dengan aroma bunga melati agar
lebih enak dinikmati.
c. Enkulturasi
Enkulturasi dalah Persebaran kebudayaan berdasarkan system norma yang berlaku
di masyarakat. Menurut
persebaran kebudayaan, enkulturasi dapat dilihat dari cara moci orang Tegal
saat berada di warung makan atau warteg.
Orang Tegal yang laki-laki dan sebagian
permpuan gemar moci. Artinya suka minum teh yang dibuat di dalam poci khas
Tegal, tetapi karena poci khas Tegal agak susah dalam perwatannya maka sekarang
ini yang penting pakai poci apa saja. Yang laki-laki biasanya moci di
warung-warung makan atau warteg sedangkan yang permepuan biasanya moci di
rumah.
Jika
moci di warung biasanya mereka punya cara duduk unik juga yaitu kaki kanan
ditekuk dan telapak kakinya diletakkan di sebelah pinggul sehingga lututnya
dapat menyangga lengan tangan kanan. Itulah cara moci yang sangat nikmat. Hanya
saja bagi orang yang bukan dari Tegal dianggap sikap duduk yang kurang sopan
tapi jika orang Tegal sedang moci itulah duduk khas. Ketika sedang moci, mereka menyukai teh
kental istilah tegalnya Buket.
2.3 Analisis Berdasarkan 7 unsur Kebudayaan
a. Religi
Contoh :
Di Desa Suradadi, kecamatan Suradadi,
tradisi dalam memperingati Rebo Wekasan dilaksanakan cukup unik. Masyarakat
Suradadi pada khususnya, melaksanakan Khaul pada saat Rebo Wekasan. Khaul
diadakan sebagai suatu kegiatan untuk mengenang kembali para ulama yang telah
berjasa dalam menyebarkan agam Islam di daerah tersebut. Pada saat Haul,
masyarakat Suradadi dan sekitarnya akan berkumpul di pemakaman tersebut dan
membacakan doa-doa untuk para ulama yang telah meninggal dunia dan telah
berjasa dalam penyebaran agama Islam.
Dibeberapa desa di Tegal, peringatan Rebo
Wekasan hanya dengan melaksanakan doa bersama dan mencukur rambut serta membuat
nasi kuning dan lauknya yang kemudian dibagikan kepada saudara dan para
tetangga. Pada masa sekarang, masyarakat yang masih memperingati Rebo Wekasan
hanyalah masyarakat pedesaan saja yang masih mempercayai tradisi ini.
b. Kesenian
Contoh :
Masyarakat zaman dahulu memperingati Rebo Wekasan
dengan melakukan shalat Rebo Wekasan, mandi di sungai, mengunjungi sanak
saudara dan membuat serangkaian acara selama seharian yang kemudian ditutup
dengan pertunjukan wayang.
c. Sistem
Teknologi dan Peralatan
Contoh :
Kondisi itu membentuk selera konsumsi orang
Tegal terhadap teh. Sampai sekarang masyarakat Tegal terbiasa minum teh yang
sepet dan pekat. Rasa sepet pada teh, berasal dari batang teh yang ikut digiling bersama
daun teh sehingga menghasilkan teh berkualitas rendah. Dalam perkembangannya,
teh di Tegal kemudian diolah dengan aroma bunga melati agar lebih enak
dinikmati.
d. Sistem Organisasi Masyarakat
Contoh:
·
Dalam tradisi moci orang Tegal
Kebiasaan moci orang Tegal bisa dilihat di
warung-warung makan, tempat lesehan pinggir jalan yang buka dari sore sampai
tengah malam, hingga rumah makan yang cukup besar di seluruh Kota Tegal.
Biasanya orang baru moci bila ada teman untuk diajak minum teh. Pada saat moci
itulah obrolan bisa mengalir hingga menjelang dini hari. Selain nikmat, harga
satu set teh poci dan dengan dua cangkir cukup murah.
Selain itu, kebiasaan
moci juga dilakukan oleh orang-orang di rumah saat pagi hari maupun malam hari
saat sedang berkumpul dengan keluarga dan kerabat. Tidak hanya para bapak-bapak saja yang
gemar moci, ibu-ibu bahkan anak-anak sering ikut moci saat keluarga sedang
berkumpul. Kebiasaan moci yang dilakukan oleh berbagai kalangan ini tidak hanya
sekadar untuk menikmati saja, namun juga untuk melestarikan budaya asli Tegal
yang ada sejak dulu yang sekarang masih dilakukan.
·
Dalam peringatan Rebo Wekasan
Peringatan Rebo Wekasan yang dilakukan oleh masyarakat desa Suradadi yaitu
dengan mengadakan Khaul. Setiap tahun, acara Khaul tersebut selalu dipenuhi
para pengunjung yang jumlahnya bisa mencapai ribuan pengunjung. Masyarakat yang mengikuti acara tersebut tidak hanya
masyakarat Suradadi, tetapi juga oleh masyarakat kabupaten dan kota Tegal yang
lain, bahkan banyak pula pengunjung yang berasal dari luar Tegal.
e. Bahasa
/ Komunikasi
Contoh :
Bagi masyarakat Tegal, teh menjadi bagian
hidup sehari-hari. Tradisi ini berakar sejak ratusan tahun lalu. Begitu
melekatnya teh dalam kehidupan masyarakat Tegal sampai ada istilah ”moci bae,
kayak wong tuwa” dalam bahasa percakapan sehari-hari orang Tegal. Istilah dalam
konteks olok-olok ini biasa dilontarkan anak muda kepada teman seusianya yang
gemar minum teh seduhan dalam poci. Namun, bisa juga untuk menyindir seseorang
yang gemar mengobrol tanpa henti.
Moci adalah kebiasaan orang Tegal yang suka
minum teh seduh dalam poci gerabah. Sebelum diminum, teh panas yang warnanya
pekat itu dituang lebih dulu ke dalam cangkir-cangkir kecil berisi gula batu.
Kombinasi teh pekat dengan manisnya gula batu ini yang membuat teh Tegal
populer dengan nama ”nasgitel”, kependekan dari panas, legi (manis), dan
kenthel (pekat) atau ”wasgitel”, yang artinya wangi, panas, legi, kenthel.
f. Sistem
Mata Pencaharian
Contoh :
·
Dalam peringatan Rebo Wekasan
Selain Khaul, hal yang unik dalam
peringatan Rebo Wekasan di Suradadi adalah adanya pasar dadakan yang ada
sebelum, selama dan setelah Rebo Wekasan. Biasanya pasar ini ada setengah atau
satu bulan sebelum hari H Rebo Wekasan. Karena adanya pasar ini juga, keadaan
di desa Suradadi menjadi sangat ramai yang disebabkan oleh banyaknya para
pedagang serta para pengunjung yang mendatangi pasar dadakan tersebut.
Barang yang dijual dalam pasar tersebut
berupa segala jenis makanan, mainan anak-anak, pakaian, sepatu, tas, serta
kebutuhan-kebutuhan yang lain. Sehingga pasar ini seperti tidak ada bedanya
dari pasar malam yang mengundang keramaian. Pedagang pun datang dari
berbagai kota.
Rebo Wekasan di Lebaksiu lebih didominasi dengan kegiatan jual-beli para
pedagang yang hanya ada selama Rebo Wekasan. Biasanya para pedagang ini sudah
membuka lapaknya setengah bulan sebelum hari H, sampai seminggu setelah hari H.
Lapak yang ada pun bisa mencapai kiloan meter dari Bukit Sitanjung. Mulai dari
makanan, baju, sepatu, tas, mainan anak-anak, aksesoris, lengkap ada di situ.
·
Dalam kebudayaan Moci orang Tegal
Selera terhadap cita
rasa teh yang agak sepet itu justru membuka peluang bagi pengusaha untuk
membuka pabrik teh di Tegal. Sekarang ini di Tegal ada empat pabrik teh besar yang
menguasai pasar dalam negeri, yaitu teh 2 Tang, Teh Poci, Teh Tong Tji, dan Teh
Gopek. Keempat pabrik teh itu berdiri hampir bersamaan, yaitu sekitar tahun
1940-an.
Citra Tegal sebagai kota teh dimanfaatkan
oleh keempat pabrik teh tersebut untuk berebut memasang logo pabrik mereka di
setiap rumah makan. Sepanjang pengamatan, tidak ada warung makan yang tidak
memasang logo teh 2 Tang, Teh Poci, Teh Tong Tji, atau Teh Gopek di warungnya.
g. Sistem Pengetahuan
Contoh :
Tegal, kota yang posisi geografisnya di
dataran rendah, sebenarnya tidak memiliki perkebunan teh. Namun, tradisi minum
teh di daerah ini sangat kental dibandingkan dengan di kota lain yang juga
berada di pesisir utara Jawa Tengah. Jauh sebelum tanaman teh datang ke
Indonesia sekitar abad ke-17, Tegal sudah memiliki budaya minum teh yang
berakar dari China.
Pada masa lalu, daerah pantai utara Jawa
Tengah, termasuk Tegal, merupakan jalur perdagangan yang ramai karena Tegal
memiliki pelabuhan besar. Sebelum ada tanaman teh di Indonesia, teh yang
dikonsumsi di Tegal didatangkan langsung dari China.
Belanda yang membawa masuk tanaman teh ke
Indonesia kemudian menetapkan sistem tanam paksa dan salah satu komoditasnya
adalah teh. Produk teh yang berkualitas sebagian besar diekspor ke Belanda dan
Eropa, sementara teh sisa yang mutunya rendah diambil oleh para pekerja
pribumi.
Kondisi itu membentuk selera konsumsi orang
Tegal terhadap teh. Sampai sekarang masyarakat Tegal terbiasa minum teh yang
sepet dan pekat. Rasa sepet itu, berasal dari batang teh yang ikut digiling
bersama daun teh sehingga menghasilkan teh berkualitas rendah. Dalam
perkembangannya, teh di Tegal kemudian diolah dengan aroma bunga melati agar
lebih enak dinikmati.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan adalah
hari Rabu di minggu terakhir di bulan Safar. Masyarakat Tegal pada zaman dahulu
percaya bahwa bencana dan mala petaka banyak terjadi pada hari itu. Sehingga
masyarakat perlu melakukan upaya pencegahan agar bencana dan mala petaka ini
tidak terjadi.
Kebudayaan
Tegal yang lainnya adalah Moci. Moci adalah kebiasaan orang Tegal yang suka minum teh
seduh dalam poci gerabah. Sebelum diminum, teh panas yang warnanya pekat itu
dituang lebih dulu ke dalam cangkir-cangkir kecil berisi gula batu. Kombinasi
teh pekat dengan manisnya gula batu ini yang membuat teh Tegal populer dengan
nama ”nasgitel”, kependekan dari panas, legi (manis), dan kenthel (pekat) atau
”wasgitel”, yang artinya wangi, panas, legi, kenthel.
3.2 Saran
Tegal memiliki
beberapa kebudayaan seperti Tradisi Rebo
Wekasan dan Moci. Dengan cara menganalisis
kebudayaan yang ada di Tegal
seperti menganalisis perubahan kebudayaan, persebaran kebudayaan dan
unsur-unsur kebudayaan . Dengan menganalisis kebudayaan tersebut dapat menambah
ilmu pengetahuan untuk kita pelajari dan mempelajari lebih dalam lagi tentang
kebudayaan yang ada di Tegal.Dengan begitu, kita sebagai generasi
penerus seharusnya dapat mempelajari,mengkaji dan menganalisis lebih dalam lagi
setiap kebudayaan yang dimiliki oleh setiap daerah, agar kebudayaan tersebut
tidak luntur di masa yang akan datang.
.
DAFTAR PUSTAKA
Koentjaraningrat. 1997. Kebudayaan, Mentalitas dan
Pembangunan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar