Senin, 10 November 2014

cerpen



Tawuran Itu
Rika telah selesai menyisir rambutnya yang tidak terlalu panjang itu. Ia menuruni tangga dengan langkah kaki yang sedikit berlari, berharap bisa sarapan bersama papah dan mamahnya. Rika langsung mengecup pipi mamahnya dan mengucapkan “selamat pagi”. Namun, sayang sekali papah rika sudah berangkat ke kantor 15 menit yang lalu. Rika kurang cepat ternyata. Mamah rika mengoleskan selembar roti gandum dengan selai coklat kesukaannya kemudian ditumpuk dengan selembar roti gandum lagi. Mbok Inah membawakan segelas susu hangat untuk rika.
Mamah menyuruh Mbok Inah untuk menyalakan televisi untuk menemani sarapan mereka dan mencari program berita pagi ini. Dalam berita, ditayangkan aksi tawuran antar siswa SMA yang terjadi Hari Selasa kemarin. Disitu, mamah Rika banyak mengomentari berita tersebut dan sesekali melihat kea rah anak semata wayangnya. Rika juga mendapatkan siraman rohani dari mamahnya agar ia tidak terlibat aksi tawuran kerena akan membahayakan nyawa dan merugikan diri sendiri serta mencoreng nama baik keluarganya.
“Kamu ndak boleh ikut aksi tawuran seperti yang di berita itu, sayang nyawamu dan masa depanmu. Kalau ada masalah dengan siswa sekolah lain lebih baik diselesaikan dengan kepala dingin, ndak usah menggunakan otot, gunakan saja pikiran yang diberikan Tuhan kepada kita.” Kata mamah Rika yang sesekali meneguk air putih.
“Iya yah bu, sudah di sekolahkan mahal-mahal tapi malah seperti itu. Kalau pelajarnya saja seperti itu, bagaimana nasib Negara kita ya, bu.” Tambah Mbok Inah dengan semangat.
Rika hanya menganggukkan kepalanya. Dalam hati, ia pun sangat setuju dengan siraman rohani dari mamahnya. Setelah selesai sarapan, rika berpamitan kepada mamahnya dan langsung berangkat ke sekolah menggunakan sepeda motor maticnya.
Rika memang berasal dari kelurga yang kaya. Mamahnya merupakan pengusaha butik yang cukup terkenal, sedangkan papahnya merupakan anggota dewan. Keluarga Rika bisa  dikatakan harmonis, tidak adapertengkaran di tengah hidup mereka. Namun, tetap saja terkadang rika merasa kesepian jika orang tuanya sedangsibuk mengurusi pkerjaan mereka masing-masing. Ditambah lagi rika tidak memiliki adik maupun kakak.
Di sisi lain, panji dengan tergesa-gesa menghabiskan sarapannya karena ia harus mengantarkan adiknya ke sekolah terlebih dulu. Berbeda dengan rika, panji bukanlah berasal dari kelurga kaya, ayahnya merupakan guru dasar negeri sedangkan ibunya berjualan sembako di warung depan rumah. Namun, panji tidak pernah mempermasalahkan kondisi keluarganya. Ia tetap bersyukur dengan apa yang dirasakannya sekarang.
“Kak panji, ayo cepat berangkat, nanti kakak terlambat lho.” Terdengar teriakan Bela dari ruang tamu.
“Iyaaaa, Bela, adikku yang manis. Sabar dong.” Jawab panji dengan nada yang terdengar santai namun agak meledek.
Panji tidak mempunyai kakak, tapi memiliki adik perempuan yang sekarang berada di bangku kelas 8 SMP. Keluarga panji juga bisa dikatakan harmonis. Namun, terkadang panji sering menjaili bela tiap kali ia punya kesempatan. Setelah sarapan selesai, panji dan bela berpamitan kepada kedua orang tuanya dan barangkat menuju sekolah.
Setelah mengantar bela ke sekolah, panji bertemu dengan budi sedang berjalan kaki. Tanpa basa-basi, panji langsung memerintah budi untuk naik di sepeda motornya. Mereka berdua adalah sahabat sejak SMP.
“kok tumben kamu jalan kaki? Sepedamu mana?” Tanya panji.
“Rantai sepedaku putus tadi malam, jadi terpaksa aku jalan kaki. Mau naik angkot, tapi tidak dapat tempat. Mau ganti rantai, uangku ngga cukup, Nji.” Jawab Budi memelas.
“Makanya kamu beli HP dong, yang murah aja. Biar kalau ada kejadian kaya gini, kamu bisa sms aku biar tak jemput.”
“Iya, Nji. Aku juga udah niat minta dianterin buat neli HP yang murahan aja. Nanti sepulang sekolah anterin aku yaa?”
“Siiap bos!”
Mereka berdua tidak terlambat masuk kelas. Masih lima menit lagi bel masuk akan dikumandangkan. Mereka duduk di bangku belakang seorang perempuan yang rambutnya tidak terlalu panjang. Perempuan yang terlihat sangat feminim, tapi tingkah lakunyatidak sefeminim penampilannya.
“Kok kalian berangkat bareng ngga ngajak-ngajak sih. Aku kan sendirian berangkatnya.” Kata Rika dengan nada cemberut.
“Tadi ngga sengaja ketemu Panji di jalan.” Jawab Budi.
“lho sepeda kamu?”
“Rantai sepedaku putus, Rik.”
“Budi ngga dapet tempat di angkot, terus dia jalan kaki. Untung aja kita berdua ketemu. Jadi kan bisa bareng.” Jelas Panji.
“ooooo begitu ceritanya. Oke oke.” Jawab rika sambil menganggukkan kepalanya.
Bel tanda masuk berbunyi. Budi keluar kelas untuk mengambil jurnal kelas dan Panji mempersiapkan peralatan yang akan digunakan untuk kelompoknya presentasi. Sedangkan rika, melanjutkan obrolan dengan teman sebangkunya.
Mereka bertiga bersahabat sejak SMP. Berawal dari Budi dan Panji yang dihukum bersama-sama karena tidak membawa kresek merak saat MOS SMP, kemudian bertemu Rika, yang dihukum karena berangkat terlambat. Mereka dihukum membersihkan lapangan dan kebetulan mereka ternyata satu kelas. Sejak saat itulah mereka saling mengenal dan bersahabat hingga sekarang.
Setelah selesai memaparkan meteri presentasi tentang tawuran pelajar, panji membuka termin diskusi kelas. Suasana kelas yang semula pasif, kini mulai aktif. Banyak pendapat mengenai alasan tawuran. Ada beberapa anak yang setuju dengan tawuran, banyak juga yang tidak setuju.
“saya sih setuju dengan aksi tawuran. Kita ngga boleh lemah dengan lawan kita. Kalau mereka menantang, ya kita ladenin ajalah. Kalo ngga, nanti sekolah kita dianggap sekolah yang lemah sama mereka.” Pendapat Billy yang terkenal nakal.
“ya ngga dong, tawuran hanya merugikan diri kita sendiri. Rugi tenaga, rugi dana, dan juga rugi waktu. Orang tua juga akan malu jika mengetahui kalau anaknya terlibat aksi tawuran.” Dewi, teman sebangku Rika, berargumen.
“saya setuju dengan pendapat Dewi. Lagipula, tawuran bisa membahayakan nyawa kita, tidak hanya mencoreng nama baik sekolah, namun juga nama baik keluarga.” Tambah Anya.
“menurut saya, tawuran merupakan cerminan pelajar yang payah. Ia tidak dapat menjadi pelajar yang baik yang mampu memajukan dirinya dan negaranya. Ingat sejarah Negara kita dulu, para pemuda dari sabang sampai merauke bersatu agar Indonesia merdeka. Masa kita sebagai generasi penerus bangsa mau menghancurkan persatuan Negara kita? Apa jadinya Indonesia nantinya?” budi mulai mengutarakan pendapatnya sambil sesekali membenarkan posisi kaca matanya.
Seketika semua siswa bertepuk tangan mendengar pendapat Budi.
“itukan sejarah, yang lalu biarlah berlalu. Masa kita sebagai pemuda tidak memiliki pengalaman yang agak nakal. Ngga asik dong.”
“bukan masalah itu, pengalaman kan bisa kita dapat melalui kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk kita juga orang lain. Tawuran bukan hanya merugikan diri kita sendiri, tapi orang lain yang berada di sekitar tempat tawuran. Pedagang bisa saja kehilangan penghasilannya karena barang dagangannya rusak terkena tawuran. Dan orang yang tidak sengaja berada di situ, bisa saja menjadi korban tawuran.” Tambah Rika dengan bijaksana.
Suasana kelas semakin memanas. Panji selaku ketua kelompok menengahi perdebatan itu. Ia pun mengakhiri presentasi kelompoknya.
“wah sangat aktif sekali ya ternyata teman-teman kelas XII SS 2 tercinta ini. Seperti yang telah teman-teman sampaikan, banyak sekali dampak negatif yang terjadi karena tawuran. Kita sebagai pelajar yang baik, jika ingin menyelesaikan masalah dengan teman maupun sekolah lain hendaknya dirundingkan dengan kepala dingin, tidak dengan tawuran. Demikian presentasi dari kelompok kami. Atas perhatian teman-teman kami mengucapkan terimakasih.” Panji menutup presentasi kelompoknya.
Kemudian terdengar tepuk tangan siswa-siswi di kelas. Tak lama kemudian, bel tanda istirahat pu berbunyi. Teman-teman yang lain berhamburan keluar kelas, sedangkan Panji menghampiri dua sahabatnya.
“Hari ini penuh pendengaranku penuh dengan kata tawuran.” Kata Rika.
“lho kok gitu? Kan kelompokku yang presentasi tentang tawuran?” Tanya Panji.
“Iyaa, tadi pagi pas sarapan, mamah dan Mbok Inah juga membahas tentang tawuran antarsiswa SMA yang ada di berita.” Jelas Rika.
“lagi banyak tawuran antarpelajar akhir-akhir ini. Makanya kita harus hati-hati barangkali di jalan sedang ada tawuran, mending kita menghindar saja.” Kata Budi.
“Yup, setuju. Yuk ke kantin. Laper nih..” Panji mengajak mereka ke kantin karena lapar setelah presentasi dan melewati perdebatan di kelas.
“ayooo.” Jawab Rika dan Budi serentak.
***
Seusai sekolah, Panji dan Rika mengantar Budi pergi ke toko HP bekas di dekat SMA Panjaitan yang terkenal siswa-siswinya nakal. Panji berboncengan dengan Budi yang belum mahir mengendarai sepeda motor. Sedangkan Rika sendirian. Setelah sampai di depan toko, Panji sempat mengamati beberapa anak seusianya yang terlihat mencurigakan sedang mengamati SMA Panjaitan.
“Mungkin mereka mencari temannya yang sekolah disitu.” Batin Panji.
Budi cukup lama memilih bentuk HP yang diinginkannya. Padahal Panji dan Rika sudah berkali-kali menawarkan pilihan. Namun, Budi tidak mau karena harga yang tidak sesuai budget atau memang Budi tidak menyukai model Hp yang dipilihkan.
Setelah hampir sejam lebih, Budi akhirnya menemukan Hp yang sesuai dengan keinginannya. Mereka pun berkainginan untuk mampir membeli batagor yang ada di seberang jalan. Sepeda motor sengaja mereka titipkan sebentar di toko Hp tadi. Saat mereka sedang menyebrang, tiba-tiba saja dari arah samping  terlihat banyak pelajar berseragam SMA berlari ke arah mereka. Ada yang membawa batu dan ada juga yang membawa balok kayu, terlihat juga ada beberapa yang membawa benda tajam.
Rika menjerit keras karena ketakutan. Panji langsung menyeret Rika kembali ke toko Hp tadi agar tidak terkena lemparan batu. Namun, gerombolan pelajar itu berlari dengan kencang. Rika terkena lemparan batu yang tidak terlalu besar di bagian kakinya dan Panji terkena lemparan batu di bagian kepala dan bahunya terkena balok kayu. Setelah sampai di toko, rika langsung bersembunyi di balik motor yang diparkir. Sedangkan Panji mencari Budi yang tertinggal di belakang saat mereka sedang menghindari tawuran.
Panji mencari Budi ditengah gerombolan yang sedang tawuran. Barangkali Budi terseret mereka saat sedang berusaha menghindar. Tetapi batang hidung Budi tidak juga terlihat. Tawuran itu terlihat sangat mengerikan. Tiba-tiba mata Panji terarah pada sosok laki-laki yang tergolek lemah di jalan. Panji pun langsung mendatangi laki-laki itu. Ternyata ia adalah Budi, sahabatnya. Terlihat ada darah yang mengalir di kepalanya dan badannya terlihat ada beberapa memar.
Beruntunglah polisi cepat datang untuk melerai pelajar yang sedang berseteru. Budi dibawa ke rumah sakit menggunakan mobil ambulans karena keadaannya cukup parah. Sedangkan Panji dan Rika berboncengan menggunakan sepeda motor mengikuti Budi ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Rika dan Panji langsung di obati lukanya oleh dokter. Sedangkan Budi masih belum sadarkan diri di ruang rawat. Mereka berdua pun menghubungi orang tua masing-masing dan orang tua Budi.
Tak lama kemudian, mamah Rika datang dengan raut muka khawatir dan langsung menanyakan keadaan mereka. Rika menceritakan secara detail kejadian yang tadi ia dan sahabatnya alami. Kemudian Rika dan Panji menengok keadaan Budi. Saat budi sadar, kemudian datang orang tuanya. Rika dan Panji meminta maaf karena tidak dapat melindungi Budi saat tawuran itu terjadi.
“Kami minta maaf, tante, gara-gara kami, Budi jadi seperti ini.” Kata Panji.
“Jangan menyalahkan diri kalian. Kalian berdua tidak salah kok, lagian juga kan kalian mengantarkan Budi untuk membeli Hp.” Jawab ibu Budi.
Sesaat kemudian, mamah Rika datang setelah bertanya kejadian yang sebernarnya kepada polisi. Ternyata mereka adalah siswa kelas XI SMA Panjaitan dan SMA Pedurungan. Mereka tawuran karena salah satu dari siswa SMA Panjaitan telah merusak sepeda motor salah satu siswa SMA Pedurungan.
Setelah malam, Panji dan Rika berpamitan pulang bersama orang tua mereka masing-masing kepada Budi yang harus dirawat beberapa hari lagi di rumah sakit.
***
Hampir seminggu, setiap pulang sekolah Panji dan Rika menengok Budi di rumah sakit untuk menyemangati Budi dan member tahu tentang pelajaran di kelas. Mereka tak bosan untuk membahas tentang tawuran yang makin marak terjadi di kalangan pelajar seusia mereka.
Setelah dua minggu, akhirnya Budi telah sembuh dan dapat berangkat sekolah seperti biasa.

Jumat, 31 Oktober 2014

Hujan Senja

aku tak terjebak
hujan deras senja ini
aku duduk manis
cangkir mungil menemaniku
aku tak kedinginan
sebab anganku dalam pelukan
hujan senja makin bergemuruh
mengguyur kolam dalam kawanan
hatiku turut bergemuruh
layaknya hujan senja
entah apa isi benakku
gemuruh ini makin kacau
kakiku mulai dingin
angin hujan senja menyapa
 
 

Rabu, 29 Oktober 2014





ANALISIS KEBUDAYAAN DI TEGAL

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Ilmu Budaya
Dosen Pengampu:
1) Suseno
2) Meina Febriani

Oleh:
Febri Wulandari
2101413008
PBSI/ ROMBEL 1

JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan berkah, rahmat serta hidayah-Nyalah sehingga saya dapat menyelesaikan makalah  ini dengan waktu yang tepat. Makalah ini berisi tentang “Analisis Kebudayaan di Tegal.
Diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang Perubahan Kebudayaan, Persebaran Kebudayaa dan unsur-unsur Kebudayaan dengan cara menganalisis tradisi atau kebudayaan yang ada di Tegal seperti Kebudayaan Rebo Wekasan dan tradisi Moci.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.


Semarang, Januari 2014

                                                                                                 Penyusun





DAFTAR ISI
Halaman Judul..................................................................................................................... i
Kata Pengantar................................................................................................................... ii
Daftar Isi............................................................................................................................ iii
BAB I. PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang Masalah...................................................................................... 1
1.2.  Rumusan Masalah.................................................................................................. 1
1.3.  Tujuan...................................................................................................................... 2
BAB II. PEMBAHASAN
2.1 Kebudayaan Rebo Wekasan dan Analisis Berdasarkan Perubahan Kebudayaan.........         3
2.2 Kebudayaan Moci Orang Tegal dan Analisis Berdasarkan Persebaran Kebudayaan...........................................................................................9
2.3  Analisis Berdasarkan 7 unsur Kebudayaan.......................................... 13
BAB III. PENUTUP
     3.1. Simpulan................................................................................................................ 18
     3.2. Saran....................................................................................................................... 18
BAB IV. DAFTAR PUSTAKA
    4.1. Daftar Pustaka........................................................................................................ 19
LAMPIRAN..............................................................................................................20




BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
            Kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
            Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai kebudayaan yang sangat beraneka ragam baik jumlahnya maupun keanekaragamannya. Karena keanekaragaman tersebutlah indonesia menjadi daya tarik bangsa lain dari belahan dunia untuk mengetahuinya bahkan tidak sedikit mereka juga mempelajarinya karenaselain beraneka ragam budaya Indonesia dikenal sangat unik.Budaya juga merupakan identitas bangsa yang harus dihormati dan dijaga serta perlu dilestarikan agar kebudayaan kita tidak hilang dan bisa menjadi warisan anak cucu kita kelak.
Tegal terletak di 165 km sebelah barat Kota Semarang, atau 329 km sebelah timur Jakarta dengan luas wilayah 39, 467 km2. Tegal memiliki lokasi yang strategis, karena berada di jalur pantai utara (pantura) Jawa Tengah, serta terdapat persimpangan jalur utama yang menghubungkan pantura dengan kota-kota di bagian selatan Pulau Jawa. Selain dekat dengan pesisir, wilayah Kota Tegal yang tidak terlalu luas juga membuat Tegal dekat dengan daerah dataran tingginya. Dengan kata lain, Tegal diapit oleh laut dan gunung. Keragaman keadaan geografis tersebut sangat berpengaruh pada kebudayaan masyarakatnya.

1.2 Rumusan Masalah
1.      Bagaimana kebudayaan Rebo Wekasan dan analisisnya berdasarkan perubahan kebudayaan?
2.      Bagaimana kebudayaan Moci orang Tegal dan analisisnya berdasarkan persebaran kebudayaan?
3.      Bagaimana analisis berdasarkan 7 unsur Kebudayaan?


1.3 Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui kebudayaan Rebo Wekasan dan analisisnya berdasarkan perubahan kebudayaan.
2.      Mengetahui kebudayaan Moci orang Tegal dan analisisnya berdasarkan persebaran kebudayaan.
3.      Mengetahui analisis berdasarkan 7 unsur Kebudayaan.



























BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kebudayaan Rebo Wekasan dan Analisis Berdasarkan Perubahan Kebudayaan
2.1.1 Kebudayaan Rebo Wekasan
            Tegal, tak hanya dikenal karena dialek bahasa Jawa (ngapak), pantai dan kulinernya, tetapi kota dengan julukan Tegal Laka-Laka ini juga dikenal karena budayanya yang unik. Salah satunya yaitu tradisi budaya yang berkaitan dengan penyebaran agama Islam di Tegal. Masyarakat Tegal menyebut tradisi itu dengan “Rebo Wekasan”.
            Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan adalah hari Rabu di minggu terakhir di bulan Safar. Masyarakat Tegal pada zaman dahulu percaya bahwa bencana dan mala petaka banyak terjadi pada hari itu. Sehingga masyarakat perlu melakukan upaya pencegahan agar bencana dan mala petaka ini tidak terjadi. Maka pada hari itu, masyarakat zaman dahulu banyak yang melaksanakan shalat Rebo Wekasan, mandi di sungai, mengunjungi sanak saudara, bahkan membuat serangkaian acara selama seharian yang kemudian ditutup dengan pertunjukkan wayang, dan lain sebagainya. Ada juga masyarakat dahulu yang memperingati Rebo Wekasan dengan cara melakukan ritual-ritual berbau mistik tertentu yang mereka percayai mampu menghindarkan dari melapetaka.
            Setiap daerah di Tegal memiliki cara dan keunikan masing-masing dalam pada saat Rebo Wekasan ini. Acara ini menjadi sebuah tradisi yang masih dilaksanakan sampai sekarang ini. Masyarakat Tegal banyak yang mempercayai kalau pada hari Rabu terakhir pada bulan Safar ini, akan banyak bencana dan mala petaka. Sehingga banyak dari mereka,  baik itu anak-anak sampai orang dewasa melakukan berbagai upaya untuk terhindar dari bencana dan mala petaka tersebut.
            Tradisi yang sampai saat ini masih dilaksanakan oleh masyarakat Tegal dalam menghadapi Rebo Wekasan, yaitu tradisi mencukur beberapa helai rambut dan tradisi membuat bubur merah dan putih, yang kemudian dibagikan ke tetangga mereka. Sekarang, tak semua masyarakat membuat bubur merah putih. Banyak masyarakat yang telah mengganti bubur merah putih dengan makanan lain seperti nasi kuning atau putih dengan lauknya. Tak ada bukti tertulis mengenai sejarah tradisi ini. Akan tetapi, tradisi ini seakan sudah menjalar dalam masyarakat dan seakan jika tidak dilaksanakan, bencana dan mala petaka akan datang menimpa mereka.
            Selain tradisi mencukur rambut dan juga membuat bubur, ada juga tradisi unik lain yang dilaksanakan di Tegal selama Rebo Wekasan. Tradisi itu dilaksanakan di dua kecamatan di Tegal, yaitu di Suradadi dan Lebaksiu. Meskipun pada dasarnya sama, yaitu untuk memperingati Rebo Wekasan, tetapi kegiatan yang dilaksanakan agak berbeda.
            Namun, dalam memperingati Rebo Wekasan di beberapa daerah tidak seramai di Suradadi dan Lebaksiu. Dibeberapa desa, peringatan Rebo Wekasan hanya dengan melaksanakan doa bersama dan mencukur rambut serta membuat nasi kuning dan lauknya yang kemudian dibagikan kepada saudara dan para tetangga. Pada masa sekarang, masyarakat yang masih memperingati Rebo Wekasan hanyalah masyarakat pedesaan saja yang masih mempercayai tradisi ini.
            Di Desa Suradadi, kecamatan Suradadi, tradisi dalam memperingati Rebo Wekasan dilaksanakan cukup unik. Masyarakat Suradadi pada khususnya, melaksanakan Khaul pada saat Rebo Wekasan. Khaul diadakan sebagai suatu kegiatan untuk mengenang kembali para ulama yang telah berjasa dalam menyebarkan agam Islam di daerah tersebut.
            Banyak pula yang mengatakan terutama di kalangan ulama, budaya Rebo Wekasan di desa Suradadi yang dilaksanakan dalam bentuk Khaul adalah sebuah upaya dari para ulama setempat untuk menjadikan Rebo Wekasan lebih bermakna dan memiliki nilai yang lebih bermanfaat bagi masyarakat. Dalam pelaksanaan Rebo Wekasan, kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat banyak yang menyimpang dari agama berkenaan keercayaan masyarakat itu sendiri. Sehingga para ulama berusaha untuk mengubah itu, yaitu dengan diadakannya Khaul.
            Khaul di desa Suradadi dalam rangka Rebo Wekasan, telah dilaksanakan sejak tahun 1961, tepatnya pada tanggal 13 Agustus (27 Safar 1381 H). Biasanya dilaksanakan di pemakaman umum desa, tepatnya di sebelah selatan Masjid Jami Al-Kautsar atau sebelah selatan Pasar Suradadi. Pada saat Haul, masyarakat Suradadi dan sekitarnya akan berkumpul di pemakaman tersebut dan membacakan doa-doa untuk para ulama yang telah meninggal dunia dan telah berjasa dalam penyebaran agama Islam. Setiap tahun, acara Khaul tersebut selalu dipenuhi para pengunjung yang jumlahnya bisa mencapai ribuan  pengunjung. Masyarakat  yang mengikuti acara tersebut tidak hanya masyakarat Suradadi, tetapi juga oleh masyarakat kabupaten dan kota Tegal yang lain, bahkan banyak pula pengunjung yang berasal dari luar Tegal.
            Selain Khaul, hal yang unik dalam peringatan Rebo Wekasan di Suradadi adalah adanya pasar dadakan yang ada sebelum, selama dan setelah Rebo Wekasan. Biasanya pasar ini ada setengah atau satu bulan sebelum hari H Rebo Wekasan. Karena adanya pasar ini juga, keadaan di desa Suradadi menjadi sangat ramai yang disebabkan oleh banyaknya para pedagang serta para pengunjung yang mendatangi pasar dadakan tersebut.
            Barang yang dijual dalam pasar tersebut berupa segala jenis makanan, mainan anak-anak, pakaian, sepatu, tas, serta kebutuhan-kebutuhan yang lain. Sehingga pasar ini seperti tidak ada bedanya dari  pasar malam yang mengundang keramaian. Pedagang pun datang dari berbagai kota. Karena terdapat sebuah kepercayaan bahwa setelah berdagang pada acara Rebo Wekasan, dagangan mereka akan bertambah laris pada hari berikutnya. Ini menjadi sebuah tradisi budaya yang selalu ditunggu oleh masyarakat Suradadi yang dapat dilihat dengan selalu diadakannya tradisi ini setiap tahunnya.
            Ada beberapa perbedaan dari pelaksanaan tradisi Rebo Wekasan yang dilakukan oleh masyarakat Lebaksiu dan Suradadi. Lebaksiu adalah salah satu kecamatan yang ada di kabupaten Tegal, yang terletak di jalur Tegal-Guci. Konon, berdasarkan cerita yang telah menyebar di masyarakat Lebaksiu bahwa peringatan Rebo Wekasan ini adalah untuk mengenang jejak Mbah Panggung, tokoh yang berjasa dalam penyebaran agama Islam di wilayah tersebut. Akan tetapi, tidak ada sumber yang menyebutkan dengan jelas tentang sejarah dari peringatan Rebo Wekasan di Lebaksiu. Sehingga cerita Mbah Panggun-lah yang dianggap paling benar.
            Makam Mbah Panggung berada di puncak Bukit Sitanjung, dimana bukit ini terletak diantara dataran-dataran tinggi yang ada di Lebaksiu. Oleh karena itu, pusat acara Rebo Wekasan di Lebaksiu berada disekitar bukit tersebut, bahkan mencapai pinggir-pinggir jalan raya.
            Jika di Suradadi Rebo Wekasan ini lebih dominan dengan acara agama dalam hal ini yaitu Khaul, Rebo Wekasan di Lebaksiu lebih didominasi dengan kegiatan jual-beli para pedagang yang hanya ada selama Rebo Wekasan. Biasanya para pedagang ini sudah membuka lapaknya setengah bulan sebelum hari H, sampai seminggu setelah hari H. Lapak yang ada pun bisa mencapai kiloan meter dari Bukit Sitanjung. Mulai dari makanan, baju, sepatu, tas, mainan anak-anak, aksesoris, lengkap ada di situ.
            Tidak hanya pedagangnya yang jumlahnya tak terhitung, pengunjung yang datang pun jumlahnya membludak. Ribuan orang datang hanya sekedar untuk berkeliling untuk melihat-lihat dagangan, atau jalan-jalan menaiki bukit untuk menikmati pemandangan Bukit Sitanjung. Selain itu, banyak masyarakat dari dalam maupun luar daerah yang datang untuk berdoa dan berziarah ke makam Mbah Tanjung.
            Di masyarakat Lebaksiu, ada sebuah mitos tentang Rebo Wekasan. Setiap tahun, tepatnya ketika Rebo Wekasan, pasti akan ada pengunjung yang meninggal, karena dijadikan tumbal. Terlepas benar apa tidak, tetapi memang ketika Rebo Wekasan, ada saja pengunjung yang meninggal. Ada yang hanyut di sungai, ada yang terjatuh, ada yang hilang, dan lain-lain.
            Meskipun begitu, Rebo Wekasan tetap menjadi sebuah acara yang ditunggu oleh masyarakat Lebaksiu. Daya tarik utama dari peringatan Rebo Wekasan ini adalah para pedagang yang datang dari berbagai kota yang membuka lapaknya di sekitar Bukit Sitanjung.

2.1.2 Analisis Berdasarkan Perubahan Kebudayaan
            Perubahan kebudayaan tidak selalu menunjukan adanya kemajuan, namun dapat sebaliknya. Secara umum, perubahan kebudayaan dapat terjadi secara defusi, akulturasi, dan asimilasi.
a. Defusi
            Defusi adalah masuknya sebuah unsur suatu kebudayaan ke kebudayaan. Contoh perubahan kebudayaan yang terjadi secara defusi yaitu adanya kebudayaan dari suatu masyarakat yang berbeda, bahkan mungkin saling berjauhan, namun menunjkan adanya unsur-unsur yang sama.
            Defusi yang tarjadi pada pelaksanaan peringatan Rebo Wekasan yang dilakukan oleh masyakat di Tegal, dapat dilihat dari peringatan yang dilakukan oleh masyarakat desa Suradadi dan Lebaksiu yaitu adanya unsur ekonomi yang ada dalam pelaksanaan Rebo Wekasan.
            Khaul di desa Suradadi dalam rangka Rebo Wekasan, yang telah dilaksanakan sejak tahun 1961, tepatnya pada tanggal 13 Agustus (27 Safar 1381 H) dan biasanya dilaksanakan di pemakaman umum desa, tepatnya di sebelah selatan Masjid Jami Al-Kautsar atau sebelah selatan Pasar Suradadi. Pada saat Haul, masyarakat Suradadi dan sekitarnya akan berkumpul di pemakaman tersebut dan membacakan doa-doa untuk para ulama yang telah meninggal dunia dan telah berjasa dalam penyebaran agama Islam.
            Setiap tahun, acara Khaul tersebut selalu dipenuhi para pengunjung yang jumlahnya bisa mencapai ribuan  pengunjung. Masyarakat  yang mengikuti acara tersebut tidak hanya masyakarat Suradadi, tetapi juga oleh masyarakat kabupaten dan kota Tegal yang lain, bahkan banyak pula pengunjung yang berasal dari luar Tegal.
            Selain Khaul, hal yang lain dalam peringatan Rebo Wekasan di Suradadi adalah adanya pasar dadakan yang ada sebelum, selama dan setelah Rebo Wekasan. Biasanya pasar ini ada setengah atau satu bulan sebelum hari H Rebo Wekasan. Karena adanya pasar ini juga, keadaan di desa Suradadi menjadi sangat ramai yang disebabkan oleh banyaknya para pedagang serta para pengunjung yang mendatangi pasar dadakan tersebut. Barang yang dijual dalam pasar tersebut berupa segala jenis makanan, mainan anak-anak, pakaian, sepatu, tas, serta kebutuhan-kebutuhan yang lain. Sehingga pasar ini seperti tidak ada bedanya dari  pasar malam yang mengundang keramaian.
            Ada beberapa perbedaan dari pelaksanaan tradisi Rebo Wekasan yang dilakukan oleh masyarakat Lebaksiu dan Suradadi. Lebaksiu adalah salah satu kecamatan yang ada di kabupaten Tegal, yang terletak di jalur Tegal-Guci. Konon, berdasarkan cerita yang telah menyebar di masyarakat Lebaksiu bahwa peringatan Rebo Wekasan ini adalah untuk mengenang jejak Mbah Panggung, tokoh yang berjasa dalam penyebaran agama Islam di wilayah tersebut. Akan tetapi, tidak ada sumber yang menyebutkan dengan jelas tentang sejarah dari peringatan Rebo Wekasan di Lebaksiu. Sehingga cerita Mbah Panggun-lah yang dianggap paling benar.
            Makam Mbah Panggung berada di puncak Bukit Sitanjung, dimana bukit ini terletak diantara dataran-dataran tinggi yang ada di Lebaksiu. Oleh karena itu, pusat acara Rebo Wekasan di Lebaksiu berada disekitar bukit tersebut, bahkan mencapai pinggir-pinggir jalan raya.
            Jika di Suradadi Rebo Wekasan ini lebih dominan dengan acara agama dalam hal ini yaitu Khaul, Rebo Wekasan di Lebaksiu lebih didominasi dengan kegiatan jual-beli para pedagang yang hanya ada selama Rebo Wekasan. Biasanya para pedagang ini sudah membuka lapaknya setengah bulan sebelum hari H, sampai seminggu setelah hari H. Lapak yang ada pun bisa mencapai kiloan meter dari Bukit Sitanjung. Mulai dari makanan, baju, sepatu, tas, mainan anak-anak, aksesoris, lengkap ada di situ.
            Tidak hanya pedagangnya yang jumlahnya tak terhitung, pengunjung yang datang pun jumlahnya membludak. Ribuan orang datang hanya sekedar untuk berkeliling untuk melihat-lihat dagangan, atau jalan-jalan menaiki bukit untuk menikmati pemandangan Bukit Sitanjung. Selain itu, banyak masyarakat dari dalam maupun luar daerah yang datang untuk berdoa dan berziarah ke makam Mbah Tanjung.
            Terlihat unsur ekonomi yang sama dalam pelaksanaan Rebo Wekasan antara di desa Suradadi dan Lebaksiu yaitu dengan adanya pasar dadakan yang menjual berbagai macam kebutuhan masyarakat. Dengan adanya pasar dadakan ini, masyarakat dapat menghasilkan penghasilan tambahan untuk kehidupannya. Selain itu, tempat pelaksanaan peringatan Rebo Wekasan di desa Suradadi dan Lebaksiu yaitu sama-sama di sekitar makam para leluhur atau orang-orang yang telah berjasa.

b. Akulturasi
            Akulturasi adalah proses adaptasi terhadap kondisi kehidupan baru. Akulturasi lebih dipahami sebagai proses, bukan suatu keadaan. Oleh karena itu, pemahaman terhadap akulturasi kebudayaan selalu berubah dari waktu ke waktu karena individu-individu sebagai pendukung kebudayaan selalu berganti dan sentuhan dengan kebudayaan lain dari waktu ke waktu selalu terjadi.
            Secara akulturasi, perubahan kebudayaan yang terjadi terlihat pada peringatan Rebo Wekasan di daerah selain desa Suradadi dan Lebaksiu. Tidak semua masyarakat yang memperingati Rebo Wekasan melakukan kegiatan yang dilakukan masyrakat dahulu. Hanya ada beberapa masyarakat yang mencukur rambutnya karena kepercayaan terhadap mala petaka mulai berkurang seiring dengan tumbuhnya kepercayaan masyarakat akan agama yang dianut yaitu Islam.
            Masyarakat di beberapa desa di Tegal, melakukan doa bersama untuk keselamatan dalam kehidupan masyarakat itu sendiri, namun acara doa bersama tersebut dilakukan sebagai peringatan Rebo Wekasan. Jika pada zaman dahulu makanan yang digunakan dalam peringatan Rebo Wekasan hanya menggunakan bubur merah dan putih, sekarang masyarakat menggantinya dengan nasi kuning dan lauknya karena tidak semua anak-anak sekarang yang menyukai bubur merah dan putih serta dinilai kurang mengenyangkan, namun tetap ada makanan bubur merah dan putih yang digunakan sebagai sarat agar tradisi terdahulu tidak hilang.  Kemudian makanan tersebut dibawa dalam acara doa bersama, dan masyarakat percaya setelah makanan tersebut didoai, maka makanan tersebut akan membawa berkah dan akan terhindar dari mala petaka bagi siapapun yang memakannya.
c. Asimilasi
            Asimilasi adalah proses penyesuaian golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan tertentu ke dalam golongan lain dengan kebudayaan yang berbeda sedemikian rupa sehingga sifat khas dan identitas kebudayaan golongan pertama lambat laun berkurang dan menghilang. Dalam praktiknya, seringkali asimilasi dikacaukan dengan akulturasi. Kedua Perubahan kebudayaan yang terjadisecara asimilasi terlihat pada peringatan Rebo Wekasan Di Desa Suradadi.
            Masyarakat Suradadi pada khususnya, melaksanakan Khaul pada saat Rebo Wekasan. Khaul diadakan sebagai suatu kegiatan untuk mengenang kembali para ulama yang telah berjasa dalam menyebarkan agam Islam di daerah tersebut. Banyak pula yang mengatakan terutama di kalangan ulama, budaya Rebo Wekasan di desa Suradadi yang dilaksanakan dalam bentuk Khaul adalah sebuah upaya dari para ulama setempat untuk menjadikan Rebo Wekasan lebih bermakna dan memiliki nilai yang lebih bermanfaat bagi masyarakat.
            Dalam pelaksanaan Rebo Wekasan, kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat banyak yang menyimpang dari agama berkenaan kepercayaan masyarakat itu sendiri. Peringatan Rebo Wekasan dilakukan dengan cara ritual-ritual berbau mistik tertentu yang masyarakat dahulu percayai mampu menghindarkan dari melapetaka seperti mandi di sungai dengan perlengkapan yang telah ditentukan oleh para sesepuh. Sehingga para ulama berusaha untuk mengubah itu, yaitu dengan diadakannya Khaul.
            Khaul di desa Suradadi dalam rangka Rebo Wekasan, telah dilaksanakan sejak tahun 1961, tepatnya pada tanggal 13 Agustus (27 Safar 1381 H). Biasanya dilaksanakan di pemakaman umum desa, tepatnya di sebelah selatan Masjid Jami Al-Kautsar atau sebelah selatan Pasar Suradadi. Pada saat Haul, masyarakat Suradadi dan sekitarnya akan berkumpul di pemakaman tersebut dan membacakan doa-doa untuk para ulama yang telah meninggal dunia dan telah berjasa dalam penyebaran agama Islam. Setiap tahun, acara Khaul tersebut selalu dipenuhi para pengunjung yang jumlahnya bisa mencapai ribuan  pengunjung. Masyarakat  yang mengikuti acara tersebut tidak hanya masyakarat Suradadi, tetapi juga oleh masyarakat kabupaten dan kota Tegal yang lain, bahkan banyak pula pengunjung yang berasal dari luar Tegal.

2.2 Kebudayaan Moci Orang Tegal dan Analisis Berdasarkan Persebaran Kebudayaan
2.2.1 Kebudayaan Moci Orang Tegal
            Bagi masyarakat Tegal, teh menjadi bagian hidup sehari-hari. Tradisi ini berakar sejak ratusan tahun lalu. Begitu melekatnya teh dalam kehidupan masyarakat Tegal sampai ada istilah ”moci bae, kayak wong tuwa” dalam bahasa percakapan sehari-hari orang Tegal. Istilah dalam konteks olok-olok ini biasa dilontarkan anak muda kepada teman seusianya yang gemar minum teh seduhan dalam poci. Namun, bisa juga untuk menyindir seseorang yang gemar mengobrol tanpa henti.
            Moci adalah kebiasaan orang Tegal yang suka minum teh seduh dalam poci gerabah. Sebelum diminum, teh panas yang warnanya pekat itu dituang lebih dulu ke dalam cangkir-cangkir kecil berisi gula batu. Kombinasi teh pekat dengan manisnya gula batu ini yang membuat teh Tegal populer dengan nama ”nasgitel”, kependekan dari panas, legi (manis), dan kenthel (pekat) atau ”wasgitel”, yang artinya wangi, panas, legi, kenthel.
            Kebiasaan moci orang Tegal bisa dilihat di warung-warung makan, tempat lesehan pinggir jalan yang buka dari sore sampai tengah malam, hingga rumah makan yang cukup besar di seluruh Kota Tegal. Biasanya orang baru moci bila ada teman untuk diajak minum teh. Pada saat moci itulah obrolan bisa mengalir hingga menjelang dini hari. Selain nikmat, harga satu set teh poci dan dengan dua cangkir cukup murah.
            Selain itu, kebiasaan moci juga dilakukan oleh orang-orang di rumah saat pagi hari maupun malam hari saat sedang berkumpul dengan keluarga dan kerabat. Tidak hanya para bapak-bapak saja yang gemar moci, ibu-ibu bahkan anak-anak sering ikut moci saat keluarga sedang berkumpul. Kebiasaan moci yang dilakukan oleh berbagai kalangan ini tidak hanya sekadar untuk menikmati saja, namun juga untuk melestarikan budaya asli Tegal yang ada sejak dulu yang sekarang masih dilakukan.
            Orang Tegal yang laki-laki dan sebagian permpuan gemar moci. Artinya suka minum teh yang dibuat di dalam poci khas Tegal, tetapi karena poci khas Tegal agak susah dalam perwatannya maka sekarang ini yang penting pakai poci apa saja. Yang laki-laki biasanya moci di warung-warung makan atau warteg sedangkan yang permepuan biasanya moci di rumah. Jika moci di warung biasanya mereka punya cara duduk unik juga yaitu kaki kanan ditekuk dan telapak kakinya diletakkan di sebelah pinggul sehingga lututnya dapat menyangga lengan tangan kanan. Itulah cara moci yang sangat nikmat. Hanya saja bagi orang yang bukan dari Tegal dianggap sikap duduk yang kurang sopan tapi jika orang Tegal sedang moci itulah duduk khas. Ketika sedang moci, mereka menyukai teh kental istilah tegalnya Buket.
            Tegal, kota yang posisi geografisnya di dataran rendah, sebenarnya tidak memiliki perkebunan teh. Namun, tradisi minum teh di daerah ini sangat kental dibandingkan dengan di kota lain yang juga berada di pesisir utara Jawa Tengah. Jauh sebelum tanaman teh datang ke Indonesia sekitar abad ke-17, Tegal sudah memiliki budaya minum teh yang berakar dari China.
            Pada masa lalu, daerah pantai utara Jawa Tengah, termasuk Tegal, merupakan jalur perdagangan yang ramai karena Tegal memiliki pelabuhan besar. Sebelum ada tanaman teh di Indonesia, teh yang dikonsumsi di Tegal didatangkan langsung dari China.
            Belanda yang membawa masuk tanaman teh ke Indonesia kemudian menetapkan sistem tanam paksa dan salah satu komoditasnya adalah teh. Produk teh yang berkualitas sebagian besar diekspor ke Belanda dan Eropa, sementara teh sisa yang mutunya rendah diambil oleh para pekerja pribumi.
            Kondisi itu membentuk selera konsumsi orang Tegal terhadap teh. Sampai sekarang masyarakat Tegal terbiasa minum teh yang sepet dan pekat. Rasa sepet itu, berasal dari batang teh yang ikut digiling bersama daun teh sehingga menghasilkan teh berkualitas rendah. Dalam perkembangannya, teh di Tegal kemudian diolah dengan aroma bunga melati agar lebih enak dinikmati.
            Selera terhadap cita rasa teh yang agak sepet itu justru membuka peluang bagi pengusaha untuk membuka pabrik teh di Tegal. Sekarang ini di Tegal ada empat pabrik teh besar yang menguasai pasar dalam negeri, yaitu teh 2 Tang, Teh Poci, Teh Tong Tji, dan Teh Gopek. Keempat pabrik teh itu berdiri hampir bersamaan, yaitu sekitar tahun 1940-an.
            Citra Tegal sebagai kota teh dimanfaatkan oleh keempat pabrik teh tersebut untuk berebut memasang logo pabrik mereka di setiap rumah makan. Sepanjang pengamatan, tidak ada warung makan yang tidak memasang logo teh 2 Tang, Teh Poci, Teh Tong Tji, atau Teh Gopek di warungnya.
            Bagi orang Tegal, teh bukan sekadar bahan baku untuk membuat minuman, melainkan juga memiliki fungsi lain, salah satunya adalah sebagai cendera mata. Ketika seseorang menggelar hajatan, bubuk teh dalam kemasan kecil, yaitu sebesar kotak korek api, dibagikan kepada tamu sebagai kenang-kenangan.

2.2.2 Analisis Berdasarkan Persebaran Kebudayaan
a. Internalisasi
            Internalisasi adalah suatu proses mempelajari kebudayaan dengan respon yang sama dari lahir sampai mati. Menurut persebaran kebudayaan, internalisasi dapat dilihat dari kebiasaan moci di Tegal.
            Kebiasaan moci juga dilakukan oleh orang-orang di rumah saat pagi hari maupun malam hari saat sedang berkumpul dengan keluarga dan kerabat. Tidak hanya para bapak-bapak saja yang gemar moci, ibu-ibu bahkan anak-anak sering ikut moci saat keluarga sedang berkumpul. Kebiasaan moci yang dilakukan oleh berbagai kalangan ini tidak hanya sekadar untuk menikmati saja, namun juga untuk melestarikan budaya asli Tegal yang ada sejak dulu yang sekarang masih dilakukan.
b. Sosialisasi
            Sosialisasi dalah proses persebaran kebudayaan karena kebersinggungan dengan orang lain dengan cara komunikasi. Menurut persebaran kebudayaan, sosialisasi dapat dilihat dari sejarah moci orang Tegal.
            Tegal, kota yang posisi geografisnya di dataran rendah, sebenarnya tidak memiliki perkebunan teh. Namun, tradisi minum teh di daerah ini sangat kental dibandingkan dengan di kota lain yang juga berada di pesisir utara Jawa Tengah. Jauh sebelum tanaman teh datang ke Indonesia sekitar abad ke-17, Tegal sudah memiliki budaya minum teh yang berakar dari China.
            Pada masa lalu, daerah pantai utara Jawa Tengah, termasuk Tegal, merupakan jalur perdagangan yang ramai karena Tegal memiliki pelabuhan besar. Sebelum ada tanaman teh di Indonesia, teh yang dikonsumsi di Tegal didatangkan langsung dari China.
            Belanda yang membawa masuk tanaman teh ke Indonesia kemudian menetapkan sistem tanam paksa dan salah satu komoditasnya adalah teh. Produk teh yang berkualitas sebagian besar diekspor ke Belanda dan Eropa, sementara teh sisa yang mutunya rendah diambil oleh para pekerja pribumi.
            Kondisi itu membentuk selera konsumsi orang Tegal terhadap teh. Sampai sekarang masyarakat Tegal terbiasa minum teh yang sepet dan pekat. Rasa sepet itu, berasal dari batang teh yang ikut digiling bersama daun teh sehingga menghasilkan teh berkualitas rendah. Dalam perkembangannya, teh di Tegal kemudian diolah dengan aroma bunga melati agar lebih enak dinikmati.
c. Enkulturasi
            Enkulturasi dalah Persebaran kebudayaan berdasarkan system norma yang berlaku di masyarakat. Menurut persebaran kebudayaan, enkulturasi dapat dilihat dari cara moci orang Tegal saat berada di warung makan atau warteg.
            Orang Tegal yang laki-laki dan sebagian permpuan gemar moci. Artinya suka minum teh yang dibuat di dalam poci khas Tegal, tetapi karena poci khas Tegal agak susah dalam perwatannya maka sekarang ini yang penting pakai poci apa saja. Yang laki-laki biasanya moci di warung-warung makan atau warteg sedangkan yang permepuan biasanya moci di rumah.
            Jika moci di warung biasanya mereka punya cara duduk unik juga yaitu kaki kanan ditekuk dan telapak kakinya diletakkan di sebelah pinggul sehingga lututnya dapat menyangga lengan tangan kanan. Itulah cara moci yang sangat nikmat. Hanya saja bagi orang yang bukan dari Tegal dianggap sikap duduk yang kurang sopan tapi jika orang Tegal sedang moci itulah duduk khas. Ketika sedang moci, mereka menyukai teh kental istilah tegalnya Buket.
2.3  Analisis Berdasarkan 7 unsur Kebudayaan
a. Religi
            Contoh :
            Di Desa Suradadi, kecamatan Suradadi, tradisi dalam memperingati Rebo Wekasan dilaksanakan cukup unik. Masyarakat Suradadi pada khususnya, melaksanakan Khaul pada saat Rebo Wekasan. Khaul diadakan sebagai suatu kegiatan untuk mengenang kembali para ulama yang telah berjasa dalam menyebarkan agam Islam di daerah tersebut. Pada saat Haul, masyarakat Suradadi dan sekitarnya akan berkumpul di pemakaman tersebut dan membacakan doa-doa untuk para ulama yang telah meninggal dunia dan telah berjasa dalam penyebaran agama Islam.
            Dibeberapa desa di Tegal, peringatan Rebo Wekasan hanya dengan melaksanakan doa bersama dan mencukur rambut serta membuat nasi kuning dan lauknya yang kemudian dibagikan kepada saudara dan para tetangga. Pada masa sekarang, masyarakat yang masih memperingati Rebo Wekasan hanyalah masyarakat pedesaan saja yang masih mempercayai tradisi ini.
b. Kesenian

            Contoh :
            Masyarakat zaman dahulu memperingati Rebo Wekasan dengan melakukan shalat Rebo Wekasan, mandi di sungai, mengunjungi sanak saudara dan membuat serangkaian acara selama seharian yang kemudian ditutup dengan pertunjukan wayang.
c. Sistem Teknologi dan Peralatan
            Contoh :
            Kondisi itu membentuk selera konsumsi orang Tegal terhadap teh. Sampai sekarang masyarakat Tegal terbiasa minum teh yang sepet dan pekat. Rasa sepet pada teh, berasal dari batang teh yang ikut digiling bersama daun teh sehingga menghasilkan teh berkualitas rendah. Dalam perkembangannya, teh di Tegal kemudian diolah dengan aroma bunga melati agar lebih enak dinikmati.
d. Sistem Organisasi Masyarakat
            Contoh:
·        Dalam tradisi moci orang Tegal
            Kebiasaan moci orang Tegal bisa dilihat di warung-warung makan, tempat lesehan pinggir jalan yang buka dari sore sampai tengah malam, hingga rumah makan yang cukup besar di seluruh Kota Tegal. Biasanya orang baru moci bila ada teman untuk diajak minum teh. Pada saat moci itulah obrolan bisa mengalir hingga menjelang dini hari. Selain nikmat, harga satu set teh poci dan dengan dua cangkir cukup murah.
            Selain itu, kebiasaan moci juga dilakukan oleh orang-orang di rumah saat pagi hari maupun malam hari saat sedang berkumpul dengan keluarga dan kerabat. Tidak hanya para bapak-bapak saja yang gemar moci, ibu-ibu bahkan anak-anak sering ikut moci saat keluarga sedang berkumpul. Kebiasaan moci yang dilakukan oleh berbagai kalangan ini tidak hanya sekadar untuk menikmati saja, namun juga untuk melestarikan budaya asli Tegal yang ada sejak dulu yang sekarang masih dilakukan.
·        Dalam peringatan Rebo Wekasan
Peringatan Rebo Wekasan yang dilakukan oleh masyarakat desa Suradadi yaitu dengan mengadakan Khaul. Setiap tahun, acara Khaul tersebut selalu dipenuhi para pengunjung yang jumlahnya bisa mencapai ribuan  pengunjung. Masyarakat  yang mengikuti acara tersebut tidak hanya masyakarat Suradadi, tetapi juga oleh masyarakat kabupaten dan kota Tegal yang lain, bahkan banyak pula pengunjung yang berasal dari luar Tegal.

e. Bahasa / Komunikasi
            Contoh :
            Bagi masyarakat Tegal, teh menjadi bagian hidup sehari-hari. Tradisi ini berakar sejak ratusan tahun lalu. Begitu melekatnya teh dalam kehidupan masyarakat Tegal sampai ada istilah ”moci bae, kayak wong tuwa” dalam bahasa percakapan sehari-hari orang Tegal. Istilah dalam konteks olok-olok ini biasa dilontarkan anak muda kepada teman seusianya yang gemar minum teh seduhan dalam poci. Namun, bisa juga untuk menyindir seseorang yang gemar mengobrol tanpa henti.
            Moci adalah kebiasaan orang Tegal yang suka minum teh seduh dalam poci gerabah. Sebelum diminum, teh panas yang warnanya pekat itu dituang lebih dulu ke dalam cangkir-cangkir kecil berisi gula batu. Kombinasi teh pekat dengan manisnya gula batu ini yang membuat teh Tegal populer dengan nama ”nasgitel”, kependekan dari panas, legi (manis), dan kenthel (pekat) atau ”wasgitel”, yang artinya wangi, panas, legi, kenthel.
f. Sistem Mata Pencaharian
            Contoh :  
·         Dalam peringatan Rebo Wekasan
            Selain Khaul, hal yang unik dalam peringatan Rebo Wekasan di Suradadi adalah adanya pasar dadakan yang ada sebelum, selama dan setelah Rebo Wekasan. Biasanya pasar ini ada setengah atau satu bulan sebelum hari H Rebo Wekasan. Karena adanya pasar ini juga, keadaan di desa Suradadi menjadi sangat ramai yang disebabkan oleh banyaknya para pedagang serta para pengunjung yang mendatangi pasar dadakan tersebut.
            Barang yang dijual dalam pasar tersebut berupa segala jenis makanan, mainan anak-anak, pakaian, sepatu, tas, serta kebutuhan-kebutuhan yang lain. Sehingga pasar ini seperti tidak ada bedanya dari  pasar malam yang mengundang keramaian. Pedagang pun datang dari berbagai kota.
Rebo Wekasan di Lebaksiu lebih didominasi dengan kegiatan jual-beli para pedagang yang hanya ada selama Rebo Wekasan. Biasanya para pedagang ini sudah membuka lapaknya setengah bulan sebelum hari H, sampai seminggu setelah hari H. Lapak yang ada pun bisa mencapai kiloan meter dari Bukit Sitanjung. Mulai dari makanan, baju, sepatu, tas, mainan anak-anak, aksesoris, lengkap ada di situ.
·        Dalam kebudayaan Moci orang Tegal
            Selera terhadap cita rasa teh yang agak sepet itu justru membuka peluang bagi pengusaha untuk membuka pabrik teh di Tegal. Sekarang ini di Tegal ada empat pabrik teh besar yang menguasai pasar dalam negeri, yaitu teh 2 Tang, Teh Poci, Teh Tong Tji, dan Teh Gopek. Keempat pabrik teh itu berdiri hampir bersamaan, yaitu sekitar tahun 1940-an.
            Citra Tegal sebagai kota teh dimanfaatkan oleh keempat pabrik teh tersebut untuk berebut memasang logo pabrik mereka di setiap rumah makan. Sepanjang pengamatan, tidak ada warung makan yang tidak memasang logo teh 2 Tang, Teh Poci, Teh Tong Tji, atau Teh Gopek di warungnya.

g. Sistem Pengetahuan
            Contoh :
            Tegal, kota yang posisi geografisnya di dataran rendah, sebenarnya tidak memiliki perkebunan teh. Namun, tradisi minum teh di daerah ini sangat kental dibandingkan dengan di kota lain yang juga berada di pesisir utara Jawa Tengah. Jauh sebelum tanaman teh datang ke Indonesia sekitar abad ke-17, Tegal sudah memiliki budaya minum teh yang berakar dari China.
            Pada masa lalu, daerah pantai utara Jawa Tengah, termasuk Tegal, merupakan jalur perdagangan yang ramai karena Tegal memiliki pelabuhan besar. Sebelum ada tanaman teh di Indonesia, teh yang dikonsumsi di Tegal didatangkan langsung dari China.
            Belanda yang membawa masuk tanaman teh ke Indonesia kemudian menetapkan sistem tanam paksa dan salah satu komoditasnya adalah teh. Produk teh yang berkualitas sebagian besar diekspor ke Belanda dan Eropa, sementara teh sisa yang mutunya rendah diambil oleh para pekerja pribumi.
            Kondisi itu membentuk selera konsumsi orang Tegal terhadap teh. Sampai sekarang masyarakat Tegal terbiasa minum teh yang sepet dan pekat. Rasa sepet itu, berasal dari batang teh yang ikut digiling bersama daun teh sehingga menghasilkan teh berkualitas rendah. Dalam perkembangannya, teh di Tegal kemudian diolah dengan aroma bunga melati agar lebih enak dinikmati.



















BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
            Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan adalah hari Rabu di minggu terakhir di bulan Safar. Masyarakat Tegal pada zaman dahulu percaya bahwa bencana dan mala petaka banyak terjadi pada hari itu. Sehingga masyarakat perlu melakukan upaya pencegahan agar bencana dan mala petaka ini tidak terjadi.
            Kebudayaan Tegal yang lainnya adalah Moci. Moci adalah kebiasaan orang Tegal yang suka minum teh seduh dalam poci gerabah. Sebelum diminum, teh panas yang warnanya pekat itu dituang lebih dulu ke dalam cangkir-cangkir kecil berisi gula batu. Kombinasi teh pekat dengan manisnya gula batu ini yang membuat teh Tegal populer dengan nama ”nasgitel”, kependekan dari panas, legi (manis), dan kenthel (pekat) atau ”wasgitel”, yang artinya wangi, panas, legi, kenthel.

3.2 Saran
Tegal memiliki beberapa kebudayaan seperti Tradisi Rebo Wekasan dan Moci. Dengan cara menganalisis kebudayaan yang ada di Tegal seperti menganalisis perubahan kebudayaan, persebaran kebudayaan dan unsur-unsur kebudayaan . Dengan menganalisis kebudayaan tersebut dapat menambah ilmu pengetahuan untuk kita pelajari dan mempelajari lebih dalam lagi tentang kebudayaan yang ada di Tegal.Dengan begitu, kita sebagai generasi penerus seharusnya dapat mempelajari,mengkaji dan menganalisis lebih dalam lagi setiap kebudayaan yang dimiliki oleh setiap daerah, agar kebudayaan tersebut tidak luntur di masa yang akan datang.
.




DAFTAR PUSTAKA

Koentjaraningrat. 1997. Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama